Becak, berasal dari bahasa Hokkien “be chia” yang artinya ‘kereta kuda’. Walaupun pada kenyataannya nama be chia lebih tepat digunakan untuk andong, karena andong benar-benar kereta yang ditarik oleh kuda, namun be chia atau becak sudah terlanjur melekat kepada sebuah kendaraan beroda tiga yang dikemudikan oleh manusia, bukan kuda.
Di beberapa daerah, terutama di kota besar seperti Jakarta, becak sudah lama punah atau tidak lagi diperbolehkan beroperasi sebagai transportasi. Tapi tidak dengan Jogja, becak masih diperbolehkan wara-wiri mengitari jalan untuk mengantar para penumpang ke tempat yang mereka inginkan. Bahkan becak seolah menjadi penambah cita rasa unik bagi para wisatawan yang ingin menikmati kota Jogjakarta.
Kendaraan kayuh beroda tiga ini bisa kita temukan di hampir sepanjang jalan kota Jogjakarta, terutama jika anda berada di daerah wisata seperti Malioboro, anda bisa melihat becak berjajar di sepanjang jalan Malioboro untuk menanti penumpang.
Selain keunikannya sebagai transportasi kuno (masuk sekitar tahun 1940-an), Becak ternyata tidak hanya sekedar sarana transportasi. Di Jogjakarta sendiri, festival becak hias sering diadakan sebagai daya tarik wisatawan maupun ajang promosi transportasi becak itu sendiri.
Tidak hanya sampai disitu, sentuhan kebajikan dan filosofi Jogjakarta ternyata turut di gabungkan para pemilik becak tersebut. Cobalah anda lihat tulisan atau slogan yang terdapat pada slebor becak, banyak tulisan-tulisan bijak nan filosofis yang tentu saja tidak hanya sebagai hiasan belaka, tapi juga menjadi sebuah renungan dan motivasi bagi pemilik becak tersebut.




